Sistem Presidensial Threshold Tak Perlu Diperkuat

Pilpres   Kamis, 26 Januari 2017 | 18:16 WIB

Sistem Presidensial Threshold  Tak Perlu Diperkuat - Kantorberitapemilu.com

KBP.Sejak Proklamasi 1945, praktek ketatanegaraan Indonesia tidak mengenal budaya oposisi, tetapi bermusyawarah dan gotong royong. Oleh sebab itu, budaya seperti ini harus dijaga karena merupakan kearifan dari Pancasila.

Hal tersebut dikatakan politisi senior Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Lukman Edy, terkait pro kontra ambang batas pencalonan presiden atau presidential threshold/PT  dalam Dialektika Demokrasi bertema "Masih Perlukah Presidential Thershold dan Parliamentary Thershold" di Media Center Nusantara III, Gedung DPR RI, Kamis (26/1).

“Kita  jangan khawatir, soal sistim presidential threshold ini sudah baik, tidak perlu ada penguatan lagi,”kata Wakil Ketua Komisi II DPR ini.

Sebelumnya Lukman Edy mempertanyakan alasan perlunya penguatan presidential threshold seperti yang mengemuka dalam pembicaraan pada Pansus RUU Penyelenggaraan Pemilu oleh DPR dan pemerintah. Dia bertanya,  dalam praktek ketatanegaraa kita, yang melemahkannya itu yang mana ? Apakah dibidang legislasi ?

“Rasanya, ketatanegaraa kita tidak menutup ruang kalau terjadi perbedaaan pendapat secara ekstrim antara presiden dan DPR di dalam membuat UU, tidak ada pintu yang tertutup,”kata Lukman. 

Sebab tambah dia, DPR selalu menyetujui kebijakan presiden, belum pernah ada yang ditolak, misalnya dalam pengajuan calon Hakim Agung atau calon Panglima TNI, begitu juga dengan Rancangan APBN, DPR tak pernah menolak.

Dia melihat, secara politik, posisi Presiden Jokowi sudah kuat. Presiden Jokowi bisa mencairkan kebuntuan dan kebekuan dua kubu di DPR paska pemilihan presiden. Semuanya sudah selesai dan mencair.


“Posisi presiden kuat, tidak ada fraksi di DPR yang menolak kebijakan presiden,”ujar Lukman Edy.


Karena itu, PKB menurut dia mendukung setiap partai politik yang mengusung calon presidennya pada pemilihan tahun2019. Partai-partai politik akan berkoalisi, antara koalisi 3 partai atau 2 partai, hal itu pasti terjadi. Bisa jadi pada pemilihan presiden 2019 itu,ada 10 pasang calon presiden.


“Tidak apa-apa, walaupun misalnya nanti ada 10 pesang calon, pasti hanya ada 2 pasangan calon yang dominan seperti di Amerika,”kata  Lukman Edy. [dry]

 


Komentar Pembaca