KASUS KORUPSI E-KTP

Saksi Beberkan Cerita Penyidik KPK Soal Pemeriksaan Aziz Dan Bamsoet

Uang E-KTP Mengalir Ketiga Anak Buah Sri Mulyani

Survei Pemilu   Kamis, 23 Maret 2017 | 20:42 WIB

Saksi Beberkan Cerita Penyidik KPK Soal Pemeriksaan Aziz Dan Bamsoet - Kantorberitapemilu.com

KBP. Kasus dugaan korupsi E-KTP kembali digelar di Pengadilan Tipikor, Jakarta Pusat, Kamis  (23/3).  Anggota DPR RI dari Fraksi Hanura, Miryam S. Haryani, dihadirkan sebagai saksi dugaan korupsi proyek E-KTP untuk dua terdakwa, Irman dan Sugiharto,  berkicau soal sikap seorang penyidik yang membocorkan kepadanya tentang perilaku dua politikus DPR dari Partai Golkar, Aziz Syamsudin dan Bambang Soesatyo, yang bolak-balik ke toilet di tengah pemeriksaan di KPK.

Miryam menganggap cerita itu sebagai tekanan mental kepada dirinya.

"Saya diancam, saya ditekan. Katanya (penyidik) 'saya pernah manggil Bamsoet (Bambang Soesatyo) dan Azis (Syamsudin) pernah mencret-mencret (saat diperiksa)'," ungkap Miryam saat bersaksi.

Kepada majelis hakim hakim dia mengatakan kalau keterangannya dalam pemeriksaan di KPK hanyalah untuk menyenangkan hati penyidik. Hal ini yang mendorong dirinya mencabut Berita Acara Pemeriksaan (BAP) dalam persidangan hari ini.

"Saya cabut BAP saya, karena waktu itu saya ditekan. Biar cepat keluar saya jawab saja, dan untuk menyenangkan penyidik," ujar Miryam sembari meneteskan air mata.

Miryam mengaku yang disampaikannya dalam BAP soal penerimaan dan pembagian uang tidak benar karena ia memberi keterangan itu di bawah tekanan verbal penyidik KPK.

"Saya sampai muntah pak. Saya nangis di kamar mandi. Saya tertekan sekali karena penyidik bertanya agak mengancam," ungkap Miryam.

Berdasar pengakuan Miryam tersebut, Ketua Majelis Hakim John Halasan Butarbutar memerintahkan menghadirkan saksi verbalisan atau penyidik yang disebut memberikan tekanan terhadap saksi. Penyidik tersebut akan dihadirkan dalam persidangan selanjutnya.

Sementara mantan Kepala Bagian Perencanaan Kementerian Dalam Negeri Wisnu Wibowo juga berkicau dan mengaku pernah diminta oleh terdakwa Sugiharto untuk menyerahkan uang kepada tiga pegawai Direktorat Anggaran Kementerian Keuangan.

Hal itu dikatakannya saat bersaksi di sidang perkara korupsi proyek pengadaan kartu identitas elektronik (e-KTP).

Dia  menjelaskan, bukan hanya tiga pegawai Direktorat Anggaran Kemenkeu yang mendapat jatah dari Sugiharto. Dirinya mengaku juga mendapat jatah uang yang diduga dari korupsi proyek tersebut.

Menurutnya, uang untuk pihak Kemenkeu dimasukkan ke dalam amplop warna coklat. Uang itu diterima Wisnu setelah anggaran proyek pengadaan e-KTP senilai Rp 5,9 triliun disetujui DPR RI. Saat itu, Wisnu menerima uang di ruang kerja Sugiharto.

"Di situ beliau (Sugiharto) mengatakan 'ini sekadar ucapan terima kasih'," beber Wisnu.

Dia menambahkan, tiga orang dari kementerian pimpinan Sri Mulyani yang ikut menerima uang terima kasih dari Sugiharto yakni atas nama Indra, Asni, dan Asfahan.

Wisnu mengaku tidak tahu persis besarannya lantaran uang tersimpan dalam amplop yang dimasukkan pada sebuah map. Meski demikian, dirinya tidak membantah jika uang terima kasih itu berkaitan dengan proyek e-KTP.

"Pak Giharto bilang ini uang ucapan terima kasih. Mau dikasih Pak Indra, Bu Asmi, Asfahan pegawai Direktorat Anggaran Kemenkeu," ujarnya.[dry]


Komentar Pembaca