Skandal Bank Century

Soal Skandal Bank Century, Teguh Santosa: Ada Kompromi Politik

Hukum   Sabtu, 21 April 2018 | 23:03 WIB | LAPORAN: Idham Adhari

 Soal Skandal Bank Century, Teguh Santosa: Ada Kompromi Politik - Kantorberitapemilu.com

Teguh Santosa/Net

KBPRI. Tidak ada alat perang yang paling canggih selain media yang menyerang sistem kesadaran individu. Begitu disampaikan oleh wartawan senior Teguh Santosa saat menjadi salah satu pembicara di forum diskusi Pembangunan Berbasis Budaya Cegah Korupsi di Aula Galeri Cipta II Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta, Sabtu (21/4).

"Misil dan rudal boleh besar-besar, tetapi media lebih powerful," kata Pemimpin Umum Kantor Berita Politik RMOL ini.

Kekuatan media juga ikut menentukan pemberantasan kasus korupsi karena tidak lepas dari pengaruh bisnis dan politik. Teguh mencontohkan perkembangan kasus dana talangan Bank Century. Ada kesan pemberitaan arus utama sekitar sepuluh tahun lalu mengamankan posisi mantan Gubernur Bank Indonesia Boediono. "Karena sepuluh tahun lalu ada kompromi politik," ungkapya.

Padahal, keputusan memberikan Fasilitas Pinjaman Jangka Pendek (FPJP) untuk Bank Century diinisiasi Boediono setelah dia mengubah Peraturan Bank Indonesia tentang Capital Adequacy Ratio (CAR) sehingga Bank Century tidak harus dilikuidasi.

Teguh mengutip pandangan ekonom senior Rizal Ramli bahwa untuk menyelamatkan Bank Century hanya perlu membayar dana pihak ketiga sekitar Rp 2 triliun.

Lalu, jika memang untuk menyelamatkan sebuah bank hanya perlu satu hari saja. "Tapi faktanya proses penyelamatan Bank Century dari bulan November 2008 sampai bulan Juli 2009. Ini bukanlah praktek yang normal dalam rangka menyelamatkan sebuah bank," kata Teguh lagi. [tsr]


Komentar Pembaca