Empat Pemimpin Dunia Bahas Serangan Tentara Israel Yang Terkutuk ke Warga Palestina

Internasional   Selasa, 15 Mei 2018 | 23:21 WIB | LAPORAN: Tangguh Sipria Riang

Empat Pemimpin Dunia Bahas Serangan Tentara Israel Yang Terkutuk ke Warga Palestina - Kantorberitapemilu.com

Rambu Kantor Kedutaan Besar Amerika Serikat/Net

KBPRI. Presiden Prancis Emmanuel Macron melakukan panggilan telepon dengan Presiden Palestina Mahmoud Abbas dan Raja Abdullah dari Yordania pada Senin (14/5) malam. Satu pemimpin dunia lainnya, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan juga menghubungi Abbas melalui sambungan telepon, pada Senin (14/5) malam.

Keempat pemimpin tersebut membahas serangan Israel terhadap warga Palestina di Jalur Gaza dan pemindahan Kedutaan Amerika Serikat (AS) ke Yerusalem.

Macron menentang keras pemindahan Kedutaan AS dari Tel Aviv ke Yerusalem. Selain itu juga mengutuk kekerasan yang dilakukan oleh pasukan bersenjata Israel terhadap pengunjuk rasa Palestina.

Macron juga menyerukan kepada semua pihak untuk meredakan ketegangan di wilayah tersebut. Melalui sebuah pernyataan, Macron mau melakukan pembicaraan dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada Selasa (15/5).

Sebanyak 55 orang Palestina menjadi korban tembakan tentara Israel pada Senin (14/5). Ini terjadi selama aksi unjuk rasa anti pendudukan di sepanjang perbatasan timur Jalur Gaza terjadi seperti dilansir Anadolu, Selasa (15/5).

Sedangkan Erdogan dan Abbas saling bertukar pandangan mengenai pemindahan lokasi Kedutaan AS ke Yerusalem. Termasuk aksi serangan terhadap warga Palestina yang dilakukan oleh tentara Israel. Erdogan menentang keras pemindahan Kedutaan AS ke Yerusalem.

Ia juga mengutuk serangan tersebut dan berharap rahmat Allah untuk semua martir atau para korban yang mati syahid membela hak-hak Palestina. Sejak unjuk rasa di perbatasan Israel-Palestina dimulai pada 30 Maret, lebih dari 90 pengunjuk rasa Palestina telah tewas oleh tembakan tentara Israel di perbatasan.

Pekan lalu, Pemerintah Israel mengatakan, unjuk rasa di perbatasan merupakan kondisi perang ketika hukum humaniter internasional tidak berlaku. [tsr]


Komentar Pembaca