Terik Cox's Bazar, Tantangan Etnis Rohingya Selama Ramadhan

Internasional   Rabu, 16 Mei 2018 | 23:56 WIB | LAPORAN: Tangguh Sipria Riang

Terik Cox's Bazar, Tantangan Etnis Rohingya Selama Ramadhan - Kantorberitapemilu.com

Pengungsi Rohingya/Net

KBPRI. Menjalani bulan suci Ramadhan di negara bagian Rakhine, Myanmar, hanya jadi mimpi bagi sebagian besar bocah etnis Rohingya di kamp pengungsian Cox's Bazar, Banglades.

Salah satu bocah pengungsi, MD Hashim (12), membayangkan aktivitasnya selama Ramadhan. Mulai dari memancing sambil menanti buka puasa, mendapat hadiah dari keluarga, hingga bersantai di bawah pohon sebelum tarawih.

Namun, faktanya, Hashim dan pengungsi lainnya harus hidup dalam kemiskinan di pengungsian. Awal Ramadhan kali ini mengingatkannya pada sedikit kenangan tentang apa saja yang mereka punya, sebelum terusir dari Myanmar oleh operasi militer.

"Di sini, kami tidak bisa membeli hadiah dan makan sehat, karena ini bukan negara kami," kata Hashim kepada AFP, dari wilayah bukit tandus di distrik Cox's Bazar.

Sebanyak 700 ribu warga etnis Rohingya melarikan diri dari kekerasan yang terjadi di desa mereka. Namun, mereka memang beruntung dapat selamat. Tapi sekarang, dengan sedikit makanan dan uang, serta cuaca panas, membuat Ramadhan kali ini jauh lebih berat.

Duduk di dalam tenda plastik ketika terik menerpa, Hashim antusias untuk mengenang kembali kebahagiaan sederhana saat Ramadhan.

Menurut dia, Ramadhan merupakan waktu paling menyenangkan di desanya. Setiap malam, teman dan keluarganya akan buka puasa bersama, makan dengan lauk ikan dan daging. Hashim juga mendapat baju baru dan sedikit parfum tradisional untuk merayakan hari Lebaran.

"Kami tidak bisa melakukan itu di sini, karena kami tidak punya uang. Kami tidak bisa mencari uang karena kami tidak diizinkan," ucapnya.

Warga Rohingya di pengungsian mengandalkan sumbangan berupa makanan, obat-obatan, pakaian dan bahan bangunan.

Hashim harus berjalan lebih dari satu jam di tengah panas terik yang membakar untuk mencapai pasar terdekat.

"Kami tidak bisa puasa di sini, karena terlalu panas. Tidak ada pepohonan," ujarnya.

Tanpa keluarga

Namun, dia masih dapat berkumpul dengan keluarganya, mengingat anak-anak lain tidak seberuntung dirinya.

Ribuan anak-anak mengungsi ke Bangladesh tanpa keluarga dan orangtua, terpisah akibat kekerasan yang terjadi atau akibat penyakit saat eksodus massal dari Myanmar.

"Sayangnya, ini akan menjadi Ramadhan pertama yang bakal diingat karena alasan yang keliru," kata Roberta Businaro dari lembaga amal Save the Children.

"Mereka cuma punya tanah, lumpur, dan pasir untuk bermain. Mereka akan melewati Ramadhan jauh dari rumah, orangtua, dan teman-teman mereka," imbuhnya.

Kendati sulitnya hidup di pengungsian, warga etnis Rohingya lain optimistis tidak bakal meninggalkan kewajibannya.

"Ini bakal menjadi sulit karena matahari sungguh panas, tapi kami tetap akan berpuasa," kata imam Muhammad Yusuf. [tsr]


Komentar Pembaca