Korut Ancam Batalkan Pertemuan Dengan Trump, Kok Bisa?

Internasional   Kamis, 17 Mei 2018 | 23:27 WIB | LAPORAN: Tangguh Sipria Riang

Korut Ancam Batalkan Pertemuan Dengan Trump, Kok Bisa? - Kantorberitapemilu.com

Donald Trump/Net

KBPRI. Korea Utara (Korut) mengancam akan membatalkan pertemuan puncak  antara pemimpinnya, Kim Jong Un dengan Presiden AS Donald Trump.

Seperti dilansir LA Times, Rabu, (16/5), Korut menyampaikan, pihaknya menolak permintaan Pemerintah AS untuk membuang senjata nuklirnya secara menyeluruh.

Ini diungkapkan Korut usai membatalkan pertemuan lanjutan dengan Korea Selatan (Korsel) pada Rabu, (16/5). Korut membatalkan pertemuan lanjutan dengan Korsel karena marah AS melakukan latihan militer gabungan militer dengan Korsel.

Latihan militer antara AS-Korsel dinilai Korut sebagai bentuk provokasi. Korut merilis pernyataan yang mengatakan, pihaknya mungkin menarik diri dari pertemuan dengan AS jika AS bersikeras memaksa mereka untuk menyerahkan senjata nuklirnya.

Kantor berita Korea Utara KNCA merilis pernyataan Wakil Menlu Korut Kim Kye Kwan yang mengecam pernyataan penasehat keamanan AS John Bolton yang meminta Kim Jong Un melucuti total senjata nuklirnya.

Tidak hanya itu, Bolton juga menuntut Kim menghentikan program rudal balistiknya, juga menyerahkan stok senjata kimia. Pelucutan senjata besar-besaran tersebut membuat Korut menjadi gusar.

"Jika AS mencoba untuk mendorong kami, memaksa kami melucuti nuklir maka kami tidak akan lagi tertarik pada pertemuan tersebut," tulis Kim Kye Gwan.

Trump mengatakan, AS belum mendengar pernyataan resmi dari Korut. "Kami belum diberitahu sama sekali, kami harus melihatnya. Kami belum menerima apa pun, kami belum mendengar apa-apa. Kita lihat saja apa yang terjadi."

Para pengamat Korut mengatakan, perubahan yang tiba-tiba dari Pyongyang mengikuti pola lama bagi Korut untuk mencoba menjaga pihak lain dalam negosiasi.

"Ini adalah tembakan di haluan," kata Bruce Klingner, Peneliti Senior untuk Asia Timur Laut di Heritage Foundation di Washington.

Sedangkan profesor Studi Tiongkok di Universitas Yonsei di Seoul, John Delury mengatakan, daripada sebuah pukulan, ini lebih merupakan cegukan.

Namun pernyataan itu menyoroti kenyataan yang telah dikaburkan oleh laporan diplomatik hangat selama berminggu-minggu dan dengan kecepatan pertemuan KTT disetujui Trump dan Korut. Padahal mereka memiliki tujuan yang sangat berbeda dalam negosiasi ini. [tsr]


Komentar Pembaca