Kasus Teroris di Malaysia Libatkan Ibu Rumah Tangga dan Anak Sekolah

Internasional   Sabtu, 02 Juni 2018 | 03:52 WIB | LAPORAN: Tangguh Sipria Riang

Kasus Teroris di Malaysia Libatkan Ibu Rumah Tangga dan Anak Sekolah - Kantorberitapemilu.com

Bendera Malaysia/Net

KBPRI. Polisi antiteror Malaysia menangkap 15 orang tersangka teroris, termasuk ibu rumah tangga. Mereka disangkakan kasus teror saat merencanakan penyerangan terhadap pemilih non-Muslim di sebuah tempat pemungutan pada pemilihan umum bulan lalu.

"Wanita itu berencana untuk meluncurkan serangan menggunakan mobil. Menargetkan pemilih non-Muslim selama pemilihan umum," kata Kepala Kepolisian Malaysia Inspektur Jenderal Polisi Mohamad Fuzi Harun dilansir Channel News Asia, Jumat, (1/6).

Polisi mengatakan, ibu rumah tangga berusia 51 tahun itu juga bermaksud menggunakan mobil untuk menyerang tempat ibadah non-Muslim. Dia juga berencana memasukkan tabung gas di mobil agar menyebabkan ledakan.

Operasi penyerangan yang dilakukan antara 27 Maret hingga 9 Mei di Kuala Lumpur, Selangor, Johor, Kelantan, dan Sabah juga menjaring seorang siswa berusia 17 tahun.

"Hal yang menarik adalah penangkapan siswa sekolah menengah, yang diduga menjadi anggota ISIS, yang merencanakan serangan sendirian menggunakan bom molotov di gereja, pusat-pusat hiburan, dan kuil Hindu di sekitar Kuala Lumpur," kata Mohd Fuzi.

Polisi mengatakan, siswa tersebut telah memfilmkan dan melakukan sejumlah pengintaian di beberapa lokasi. Pemuda itu juga telah merekam video peringatan tentang serangan itu dan mengirim klip itu ke tiga grup WhatsApp yang terhubung dengan ISIS dan grup Telegram.

Ia ditangkap satu jam setelah mengunggah video. Polisi juga menangkap tujuh tersangka di Sabah yang merupakan bagian dari perencanaan untuk mendapatkan senjata guna berperang di Kota Marawi, Filipina Selatan.

Jaringan tersebut terdiri dari satu orang Malaysia, empat orang Filipina, dan dua orang Filipina yang bertempat tinggal di Malaysia. Seorang warga Bangladesh berusia 41 tahun, yang memiliki restoran di Bukit Bintang, juga ditangkap karena menyelundupkan senjata untuk teroris internasional.

Ada juga pasangan dari Afrika Utara yang terjaring dalam operasi penyerangan, mereka ada di daftar buruan negara asal mereka sebagai tersangka teror ISIS. Mereka dideportasi pada 14 April ke negara asal mereka. [tsr]


Komentar Pembaca