Pemuda Solo Sebut Paham Radikal Hambat Pembangunan

Politik   Sabtu, 30 Juni 2018 | 10:36 WIB | LAPORAN: Tangguh Sipria Riang

Pemuda Solo Sebut Paham Radikal Hambat Pembangunan - Kantorberitapemilu.com

Komunitas Generasi Muda Pecinta Seni Kota Solo/Net

KBPRI. Penyebaran paham radikal di kalangan masyarakat kian luas dan gencar. Khususnya, isu negatif terkait besarnya utang negara yang digunakan untuk menyelesaikan berbagai pembangunan infrastruktur yang digagas oleh pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Isu tersebut dikiritisi Komunitas Generasi Muda Pecinta Seni Kota Solo, lewat kegiatan pentas seni dan diskusi berjudul "Yang Muda Yang Ikut Bela Negara" beberapa waktu lalu.

"Paham radikal tidak sesuai bukan karena melakukan perubahan secara instan, tapi dalam prosesnya sering memaksakan kehendak", kata komika Fajar Istifar dalam keterangan pers yang diterima redaksi, Sabtu (30/6).

Semakin kuatnya penyebaran paham radikal di tengah masyarakat, lanjutnya, tidak hanya dilakukan oleh kelompok-kelompok garis keras yang sering mengatasnamakan agama tertentu. Tetapi juga dilakukan oleh pihak-pihak yang ingin melakukan perebutan kekuasaan secara paksa.

"Padahal paham radikal sangat tidak sesuai dengan kondisi kehidupan masyarakat Indonesia karena paham radikal merupakan sebuah upaya melakukan perubahan secara instan," tuturnya.

Oleh karena itu, komunitas tersebut mengajak masyarakat Indonesia senantiasa menjunjung tinggi toleransi antar sesama warga yang telah terjalin selama puluhan tahun. Serta menjadi modal dalam melakukan berbagai program pembangunan.

Di sisi lain, adanya tudingan program pembangunan yang sedang dilaksanakan, dianggap tidak akan membawa kemajuan bagi kesejahteraan masyarakat.

Pola pembangunan yang dilaksanakan, dianggap telah menyebabkan kemunduran dan semakin meningkatkan angka kemiskinan. Serta menambah panjang daftar pengangguran akibat dari kebijakan pemerintah yang membiayai program pembangunan melalui utang. Padahal meskipun rasio utang Indonesia cukup banyak, namun masih berdampak positif pada sektor lainnya.

"Selama empat tahun pemerintahannya, Jokowi berhasil mendorong pertumbuhan wirausaha muda dan membuka lapangan kerja baru," tutur Komika Bayu Penegak.

Lebih lanjut pengamat ekonomi dari IAIN Surakarta, Bayu Nurhadi mengatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia sejak tahun 2016 memang mengalami penurunan. Hal ini lebih disebabkan karena menurunnya tingkat konsumsi masyarakat dan masih rendahnya pendapatan negara melalui pajak.

Menurunnya tingkat konsumsi masyarakat diakibatkan oleh adanya peralihan dari masyarakat yang semula mengkonsumsi barang, beralih menjadi pedagang atau penjual barang.

Meski demikian, faktor di atas tidak bisa dilegitimasi bahwa situasi perekonomian Indonesia dalam kondisi gawat atau lampu kuning. Karena masih ada faktor yang menjadi dasar menguatnya perekonomian negara. Seperti adanya peningkatan investasi yang masuk ke Indonesia.

Rasio utang dengan pertumbuhan ekonomi pun masih seimbang. Karena hutang negara sesungguhnya hanya sepertiga dari total utang Indonesia. Sisanya merupakan utang BUMN, lembaga keuangan dan swasta.

Oleh karena itu, Bayu mendorong generasi muda perlu belajar memahami siklus perekonomian negara. Sehingga dapat berperan aktif dalam mendorong peningkatan perekonomian negara, sebagai wujud aksi generasi muda untuk bela negara. Salah satu sarana bela negara adalah taat membayar pajak.

"Jika seluruh generasi muda yang sudah berpenghasilan taat bayar pajak, bisa dipastikan perekonomian Indonesia akan semakin maju dan modern," tambah Bayu.

"Klo ada anak muda yang taat bayar pajak, itu adalah bukti bahwa dia adalah generasi muda yang aktif dan jauh dari paham radikal," tutup Bayu. [tsr]


Komentar Pembaca